memori berlian dan sampah

 Sampah, sampah kecil kadang akan lebih berharga daripada berlian yang anggun. Kadang berlian itu, berlian yang dibanggakan ternyata hanyalah sampah yang tak berguna. Hanya membuat sakit yang memilikinya, hanya mengecewakan yang percaya akan keanggunannya. Berlian tak akan selamanya berharga.

Banyak sakit yang tersapu oleh kilaunya, hingga tak ada satupun yang tahu. Banyak tangis yang terdengar pilu, namun dengan beningnya semuanya menjadi tuli. Banyak pemberontakan dalam jiwa yang begitu kukuh terus berjuang, namun dengan keanggunannya berlian  tak satupun melihat. Hanya kepalsuan yang terlihat.

Apa yang dulu adalah sampah kini menjadi sesuatu yang lebih berharga dari berlian yang dulu dibanggakan. Sampah itu tumbuh menjadi sebuah kesejukan dan penenang saat berlian itu terus mengikat. Ada suatu rasa agar berlian itu menghilang dan terganti dengan keanggunan sampah yang begitu hakiki, tanpa kesombongan dan kemunafikan. Berjalan apa adanya, tak ada pengkhianatan, tak ada kesedihan, hanya tinggal kedamaian. Namun akankah semua itu akan membawa bahagia apabila berlian itu akan benar-benar hilang ? adakah yang tahu ? tak ada yang tahu, hanya sang pencipta yang tahu. Dialah yang membuat segala misteri ini, segalanya akan kelihatan adil pada saatnya.

Segala memori yang terkuak kembali akan menyadarkan, betapa sampah itu dulu begitu jauh dan diremehkan. Dan berlian itu begitu sempurna untuk dilihat, hingga sedetik pun tak ada waktu untuk menatap sampah itu. Namun apa yang terjadi kini, berlian itu berubah menjadi buruk rupa. Bukan luarnya, namun di dalam. Ya, dalamnya begitu pekat ternyata. Hitam dan kelam, tak ada kilau yang terpancar. Bahkan sekarang pekat itu mulai memakan segala kilau yang ia pancarkan, menjadi tak berarti lagi, sampah. Sampah itu sekarang bermetamorfosis menjadi apa yang dikagumi. Dan segala keburukannya yang terlihat dulu kala, terhapus oleh cahaya di hatinya. Cahaya yang memancarkan kedamaian saat bersamanya. Yang menyelamatkan dari pekat sang berlian.

Sampai kapanpun, sampah akan menjadi berlian, dan berlian akan tetap menjadi sampah hingga dia mampu mengubah langkahnya. Mampu menghilangkan segala kesombongan, kemunafikan, dan segala pekat yang dia tumbuhkan sendiri dalam jiwanya. Jiwa sang berlian yang kini telah membusuk karena kilau yang ditawarkan kepadanya.  Dan sampah, adalah berlian yang akan selalu dijunjung tinggi dalam segala memori yang dulu terabaikan. Dan nyata, sekarang dia lebih berharga dan lebih suci melebihi sang berlian. Sampah itu, tak akan pernah dibiarkan sendirian dan menangis. Tak akan pernah dibiarkan sedih, karena sampah itulah alasan untuk tersenyum.

***

Untuk seorang yang dulu terabaikan, terima kasih karena kau masih ada . . . karenamu aku bertahan, karenamu aku berjuang dan akan terus membelamu hingga pengadilan maut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s